BeritaInfrastrukturMetro Lampung

Miris! Jalan Utama di Metro Jadi Kubangan, Program 100 Hari Kerja Walikota Disebut Gagal

×

Miris! Jalan Utama di Metro Jadi Kubangan, Program 100 Hari Kerja Walikota Disebut Gagal

Sebarkan artikel ini

METRO, LAMPUNG (FI) – Harapan warga yang bermukim di sepanjang ruas Jalan WR Supratman, yang meliputi Kelurahan Hadimulyo Timur, Kecamatan Metro Pusat, dan Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro, kini berubah menjadi kekecewaan dan keprihatinan mendalam.

Janji manis Walikota Metro, Bambang Iman Santoso, yang digaungkan menjelang Hari Raya Idul Fitri lalu, bahwa pengguna jalan akan merasakan kenyamanan, keamanan, dan penerangan yang memadai saat mudik lebaran, ternyata tidak terbukti di lapangan.

Kenyataan pahitnya, Jalan WR Supratman yang telah lama mengalami kerusakan parah, sama sekali tidak tersentuh perbaikan dalam program seratus hari kerja pemerintahan kota. Bahkan, menurut penuturan Rico, seorang warga RT 31 RW 12 Kelurahan Hadimulyo Timur kepada sejumlah wartawan pada Selasa (08/04/2025), tidak ada satu meter pun ruas jalan yang diperbaiki.

“Padahal kerusakannya sudah sangat parah dan sering menimbulkan korban kecelakaan pengendara, terutama motor roda dua, karena terperosok ke dalam lubang. Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1446 lalu, kami sebagai warga berinisiatif menimbun beberapa lubang sebisanya dengan material seadanya,” ungkap Rico dengan nada kecewa.

Ia menambahkan, “Dalam Pemilihan Kepala Daerah Kota Metro yang lalu, seluruh TPS di Hadimulyo ini dimenangkan oleh Bapak Walikota dan Wakil Walikota yang menjabat sekarang ini loh,” seolah menyiratkan adanya harapan besar yang kini pupus.

Kekecewaan serupa juga dilontarkan oleh Sutek, seorang warga berusia 65 tahun yang tinggal di Jalan WR Supratman RT 11 RW 03 Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Metro Utara. Ia menyoroti kondisi gorong-gorong sodetan jalan yang ambles dan sangat membahayakan.

“Gorong-gorong ini sudah ambles beberapa bulan lalu dan sudah ada beberapa orang yang menjadi korban kecelakaan. Ada yang tangannya patah, ada juga yang giginya tanggal akibat jalan rusak dan gorong-gorong ini,” tuturnya dengan nada prihatin.

Sutek mengakui bahwa pernah ada bantuan dari program Corporate Social Responsibility (CSR) yang memperbaiki jalan dengan menimbun menggunakan hotmix.

“Tetapi tidak semua bagian jalan diperbaiki, dan karena gorong-gorongnya tidak diperbaiki secara permanen, sekarang ya rusak lagi, bahkan hancur parah,” jelasnya.

Ketika ditanya mengenai penyebab utama kerusakan jalan dan amblesnya gorong-gorong, apakah karena volume kendaraan yang berlebihan atau faktor lain, Sutek memberikan pandangannya.

“Kalau mengenai volume muatan atau ramainya kendaraan yang melintas, saya anggap itu wajar saja, karena ini jalan umum yang kelasnya jalan kota dan menghubungkan antar kabupaten. Itu tidak bisa dijadikan alasan,” tegasnya.

Menurut Sutek, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab utama kondisi jalan yang memprihatinkan ini. “Pertama, menurut saya, ketika membangun atau memperbaiki jalan, kualitasnya kurang baik dan lapisan aspalnya tipis.

Kedua, pemangku jabatan atau Pemerintah Daerah kurang memberikan perhatian yang serius, baik dari Dinas PU atau bagian jalan yang jelas. Sementara para pemimpin saat belum kampanye hanya memberikan janji-janji kosong, tidak hanya Walikota, Gubernur, atau anggota legislatif DPRD, semuanya sama saja, hanya janji tanpa ada bukti nyata,” kritiknya pedas.

Ia kembali menyinggung janji seratus hari kerja terkait perbaikan jalan menjelang hari raya. “Katanya seratus hari kerja jalan-jalan akan diperbaiki sebelum hari raya, sehingga bagi pemudik pengguna jalan akan nyaman dan aman, lampu jalan umum (LPJU) juga akan terang benderang. Tetapi mana buktinya?! Omong doang,” ujarnya dengan nada sinis.

Lebih lanjut, Sutek menyampaikan pandangannya mengenai pihak yang paling bertanggung jawab atas banyaknya jalan rusak dan berlubang di Kota Metro. “Kalau kata saya, semua salah, tetapi yang lebih salah itu Dinas PU bagian jalan, lalu bagian Perencanaan juga Sekretaris Daerah (Sekda), karena Organisasi Perangkat Daerah (OPD) itu kan di bawah kendali Sekda. Dinas PU bagian jalan seharusnya bisa melihat mana saja jalan yang menjadi prioritas untuk diperbaiki, dan bagian Perencanaan harus benar-benar bisa merencanakan dan menghitung anggaran dengan tepat,” jelasnya secara lugas.

Di akhir pernyataannya, Sutek mewakili harapan seluruh warga yang merasakan dampak buruk dari kerusakan jalan ini. “Terakhir, kami warga sangat berharap kepada Pemerintah Kota Metro untuk segera memperbaiki jalan-jalan yang rusak, baik jalan poros maupun jalan-jalan gang,” pungkasnya dengan nada penuh harap.

Reporter: Glenk Susanto as.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *