TEBO,FokusInvestigasi.com – Praktik Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kecamatan Rimbo Ulu, Kabupaten Tebo, kembali memakan korban jiwa. Dua orang pekerja dilaporkan tewas seketika akibat tertimbun material longsor saat sedang beraktivitas di dalam lubang tambang ilegal pada Rabu (15/04/2026).
Insiden maut ini seolah menjadi pengingat kelam atas maraknya aktivitas PETI di wilayah Tebo yang tak kunjung tuntas. Keresahan warga pun memuncak, mengingat aktivitas serupa terus berjalan meskipun risiko nyawa terus mengintai di depan mata.
“Ini bukan kejadian pertama. Sudah banyak korban berjatuhan, tapi tambangnya tetap beroperasi. Kami memohon kepada aparat agar jangan tutup mata dengan kondisi ini,” ujar salah seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya, Kamis (16/04/2026).
Kritik tajam mulai berdatangan dari publik yang menilai proses penyelidikan kasus-kasus PETI oleh Aparat Penegak Hukum (APH) terkesan lamban. Kini, desakan kuat muncul agar Polres Tebo tidak hanya menertibkan pekerja di lapangan, tetapi juga berani menindak tegas para cukong dan pemodal yang berada di balik layar aktivitas ilegal tersebut.
Menanggapi peristiwa ini, Kasat Reskrim Polres Tebo, Iptu Rimhot Nainggolan, S.H., M.H., menegaskan bahwa pihaknya tengah memberikan atensi serius terhadap kasus tersebut.
“Kami serius menangani kasus ini. Dalam waktu dekat, kami akan segera melakukan gelar perkara. Hasil perkembangannya akan segera kami sampaikan kepada rekan-rekan wartawan,” ungkap Iptu Rimhot saat dikonfirmasi via sambungan telepon.
Hingga berita ini dirilis, pihak kepolisian masih melakukan pendataan untuk memastikan identitas kedua korban. Di lokasi kejadian, garis polisi (police line) telah terpasang guna kepentingan penyelidikan lebih lanjut dan sterilisasi area tambang.
Masyarakat Rimbo Ulu kini menanti langkah konkret dari kepolisian. Warga berharap proses hukum kali ini benar-benar menyentuh aktor intelektual yang diduga kuat membekingi aktivitas tambang emas ilegal di wilayah mereka, agar rantai PETI dapat terputus dan tidak ada lagi nyawa yang menjadi korban.
(Yulfi Afran)
























