METRO,(fokusinvestigasi.com) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 10 Kota Metro yang seharusnya menjamin asupan gizi siswa, justru berakhir menjadi musibah. Seorang siswa dilaporkan mengalami keracunan dan sakit perut parah setelah mengonsumsi makanan yang diduga sudah basi pada Senin (15/9/2025).
Kabar ini pertama kali terungkap setelah seorang ibu dari siswa kelas 8 menghubungi awak media, mengungkapkan kekhawatirannya. “Anak saya hari ini tidak masuk sekolah karena sakit perut dan mencret,” ujar ibu yang bekerja di luar kota tersebut, Selasa (16/9/2025).
Ia menambahkan bahwa insiden ini menimbulkan rasa was-was mendalam baginya, terutama karena ia tidak bisa mengawasi anaknya secara langsung. “Saya sebagai orang tua yang tidak tinggal di rumah sangat cemas kalau hal ini terulang lagi. Beruntung anak saya tidak sampai kenapa-kenapa,” katanya dengan nada prihatin.
Saat dikonfirmasi, ibu tersebut menyebutkan bahwa wali kelas sudah mengetahui adanya laporan makanan basi. Namun, informasi itu sudah terlambat sampai ke siswa, sehingga anaknya sudah terlanjur memakan hidangan tersebut.
”Pagi tadi saya sudah konfirmasi ke wali kelas, ternyata mereka sudah tahu kalau MBG kemarin itu basi, tapi anak saya sudah terlanjur memakannya,” jelasnya.
Menanggapi insiden ini, pihak sekolah hingga malam hari belum memberikan pernyataan resmi. Namun, seorang guru yang enggan disebutkan namanya membenarkan bahwa makanan yang dibagikan memang basi. Ia mencoba meredam isu dengan mengatakan, “Alhamdulillah anak didik saya tidak ada yang mengalami dampak kesehatan,” sebuah pernyataan yang bertolak belakang dengan fakta yang dialami oleh siswa korban. Guru tersebut juga hanya mengaku bertugas membagikan makanan dan menyebutkan bahwa dapur MBG berlokasi di Yosomulyo.
Sebagai respons atas keluhan yang ada, pihak penyedia layanan, SPPG Mitra MBG, melakukan langkah cepat dengan mengganti menu yang dibagikan pada hari berikutnya, yaitu roti, telur, dan jeruk. Meski begitu, langkah ini dinilai sudah terlambat dan tidak bisa mengembalikan kesehatan siswa yang telah menjadi korban.
Insiden ini memicu pertanyaan serius mengenai pengawasan dan kualitas program MBG. Kurangnya transparansi dari pihak sekolah kepada orang tua, khususnya yang tidak berdomisili di Metro, juga menjadi sorotan.
Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi pihak berwenang untuk meningkatkan pengawasan terhadap program-program pemerintah demi memastikan keamanan dan kesejahteraan anak-anak.
(Penulis: Glenk Susanto as)
























