Pekanbaru,FokusInvestigasi.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi program andalan pemerintah pusat diproyeksikan membawa angin segar bagi peningkatan kualitas gizi anak di Provinsi Riau. Meski berskala masif, program ini dipastikan tidak akan membebani Pendapatan Asli Daerah (PAD) Bumi Lancang Kuning.
Politisi Gerindra Riau, Androy A. Rianda, menegaskan bahwa MBG merupakan langkah strategis jangka panjang untuk mencetak generasi emas yang sehat dan cerdas. Menurutnya, fokus utama program ini adalah pemenuhan kebutuhan dasar anak-anak yang selama ini kurang tersentuh secara merata.
“Program MBG sangat baik karena secara langsung menyentuh kebutuhan dasar anak-anak, khususnya dalam pemenuhan gizi. Dengan asupan yang baik, kualitas kesehatan dan daya tangkap belajar peserta didik otomatis akan meningkat,” ujar Androy kepada media, Selasa (23/6).
Menjawab kekhawatiran publik terkait potensi tersedotnya anggaran daerah untuk program raksasa ini, Androy meluruskan bahwa skema pembiayaan MBG murni bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Pelaksanaan Program MBG tidak mempengaruhi PAD Riau. Justru yang terpenting saat ini adalah bagaimana pengawasan di lapangan agar program ini berjalan optimal, transparan, dan tepat sasaran,” tambahnya.
Kendati tidak menguras PAD, sejumlah pengamat kebijakan publik mengingatkan bahwa tantangan terbesar infomasi MBG di Riau terletak pada jalur logistik wilayah kepulauan dan akurasi data penerima. Pemerintah daerah tetap memikul tanggung jawab moral dalam hal supervisi dan penyediaan data yang valid agar tidak terjadi tumpang tindih anggaran.
Di sisi lain, potensi ekonomi lokal dari program ini dinilai sangat besar jika dikelola dengan melibatkan ekosistem daerah.
Androy mendorong agar implementasi MBG di Riau tidak menggunakan pola sentralistik, melainkan wajib menghidupkan sektor hulu masyarakat.
“Kita berharap program ini tidak hanya menaikkan angka kecukupan gizi anak, tetapi juga menjadi stimulus ekonomi. Caranya, libatkan UMKM, petani lokal, peternak, dan nelayan setempat sebagai penyuplai bahan baku. Jangan sampai perputaran uangnya justru lari ke luar Riau,” pungkasnya. (Muliya)





























