BeritaKalimantan UtaraPeristiwa

Sengketa Lahan Sawit di Nunukan Memanas: Petani Dihadang Saat Panen

×

Sengketa Lahan Sawit di Nunukan Memanas: Petani Dihadang Saat Panen

Sebarkan artikel ini

Nunukan,fokusinvestigasi.com – Konflik agraria kembali mencuat di Nunukan, Kalimantan Utara, melibatkan Kelompok Tani Maju Taka 1 dan PT Tunas Mandiri Lumbis (PT TML) terkait kepemilikan lahan perkebunan kelapa sawit di Inti II Perum Seimanggaris. Insiden terbaru terjadi ketika anggota kelompok tani hendak memanen buah sawit di lahan yang mereka klaim sebagai milik mereka, namun dihadang oleh seorang oknum anggota TNI dari KOREM 092 Tanjung Selor dan Kodim 0911 Nunukan, Selasa (15/4).

Ketegangan di lokasi semakin meningkat dengan kehadiran Zainuddin, direktur PT TML, yang bersikeras bahwa lahan tersebut adalah milik perusahaan. Warga kelompok tani mengungkapkan bahwa penghadangan ini telah berlangsung selama delapan bulan terakhir, menyebabkan mereka kehilangan mata pencaharian.

“Sudah delapan bulan kami tidak bisa mengambil hasil panen di lahan kami sendiri. Kami sangat menderita karena ini adalah satu-satunya sumber penghasilan kami,” ungkap Pak Umar, seorang anggota kelompok tani dengan nada frustrasi.

Situasi semakin memanas ketika terjadi adu mulut antara Pak Sahiruddin, anggota kelompok tani lainnya, dengan Mansyur, seorang mandor PT TML. Mansyur menuduh para petani sebagai pencuri buah sawit. “Kami bukan pencuri. Kami hanya ingin memanen di lahan yang kami yakini sebagai hak kami,” tegas Pak Sahiruddin.

Masyarakat Kelompok Tani Maju Taka 1 sangat berharap adanya intervensi dari pemerintah daerah dan aparat TNI untuk membantu menyelesaikan konflik yang telah berlangsung puluhan tahun ini. Mereka juga mendesak PT TML untuk bersedia berdialog dan mencari solusi yang adil bagi kedua belah pihak, demi terciptanya kesejahteraan bagi para petani.

Konflik lahan perkebunan kelapa sawit di Nunukan ini menambah daftar panjang sengketa agraria di Indonesia. Pemerintah dan pihak terkait diharapkan dapat mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan permasalahan ini secara damai dan berkeadilan.

(Samsul/Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *